Tradisi Petik Laut di Pulau Gili Raja, Digelar Setiap Tahun di Bulan Syuro

  • Whatsapp
Prosesi petik laut di Desa Banbaru, Pulau Gili Raja Kecamatan Giligenting

Madurazone. SUMENEP – Warga Desa Banbaru Pulau Gili Raja, Kecamatan Giligenting menggelar acara rokat tasek atau petik laut. Kegitan itu dilakukan masyarakat yang mayoritas nelayan itu setiap tahun di bulan Syuro atau bulan Muharram.

Tradisi petik laut ini digelar sebagai tanda rasa syukur atas nikmat yang selama ini diterima, apa yang dimiliki bisa membawa keberkahan, keselamatan. Itu penghormatan atau syukur atas limpahan rezeki dari alam semesta dan laut.

Muat Lebih

Tidak hanya itu, ritual tahunan itu juga dimaksudkan agar warga dijauhkan dari marabahaya atau bencana laut. Ke depan, hasil yang diperolehnya pun akan lebih melimpah bisa membawa peningkatan ekonomi masyarakat.

Tradisi petik laut di pulau Gili Raja itu dimulai dengan kegiatan keagamaan yang ketat, mulai dari do’a, istigasah hingga khatmil Qur’an. Baru kemudian prosesi larung “pitek” atau sesaji yang diletakkan di perahu kecil yang dibuat khusus oleh warga.

Biasanya, sesaji yang larung itu sudah dibacakan doa dan diarak oleh warga menuju pelabuhan atau tempat pelarungan “pitek” itu. Kemudian, larungan ditaruh di laut dan dilarung dan dikawal nelayan dengan perahu yang sudah dihias.

Tradisi petik laut itu tidak hanya menjadi ritual spiritual saja, melainkan jadi tontonan masyarakat dan dinanti setiap tahunnya. Apalagi, kegiatan itu juga diisi oleh hiburan yang menarik warga untuk datang. Ada hiburan rakyat yang di gelar.

Lumrahnya, secara rutin, usai pelarungan “pitek” atau sesaji itu, warga menggelar pertunjukan ludruk, kesenian khas Madura. Itu digelar semalaman suntuk sampai pagi. Lagi-lagi itu bagian dari rasa syukur atas rezeki Allah yang telah diterima masyarakat.

“Tradisi petik laut ini sudah setiap bulan Syuro dilaksanakan oleh masyarakat. Dan, biasanya digelar di masing-masing pelabuhan yang ada di Pulau Gili Raja,” kata pemuda Gili Raja Sahrul Gunawan.

Dia mengungkapkan, keyakinan pelaksanaan tradisi petik laut sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat. Tentu saja mengharap berkah atas rezeki yang diterima. “Bagian dari rasa syukur, dan permohonan agar dijauhkan dari balak dan musibah,” tuturnya.

Kegiatan petik laut ini, sambung dia, disiapkan sendiri oleh masyarakat khususnya nelayan. Sebab, hal itu sudah menjadi identitas budaya warga pulau Gili Raja. “Tradisi ini akan terus ada, dan insya Allah tidak akan tergerus oleh perkembangan zaman. Sebab, itu tradisi spiritual warga,” tuturnya.

Aktifis Sumenep itu juga mengungkapkan, petik laut didukung oleh semua elemen masyarakat, termasuk perusahaan yang beroperasi di sekitar pulau Giligenting. Sebab, itu menjadi tradisi yang perlu dilestarikan.

“Alhamdulillah, Perusahaan Migas, HCML juga mendukung kegiatan petik laut ini,” tegasnya tersenyum. (Nz/yt)

Pos terkait