Oleh: NIA KURNIA FAUZI, Ketua GOW dan Anggota DPRD Sumenep
SETIAP HARI, masyarakat disodorkan dengan pemberitaan penyebaran, dan update pasien positif corona atau covid 19 di seluruh daerah Nusantara ini. Beragam ekspresi ditunjukkan komunikan (penerima pesan). Ada yang menerima dengan pasrah, tak sedikit pula yang menerima secara spontan, tersentak, kaget dan sporadis. Sebab, dihantui rasa was-was penularaanya. Akibatnya, rasa panik, gelisah dan takut mewarnai elemen masyarakat tanah leluhur ini.
Tentu saja, komunikan tidak sama dalam merespon pesan yang diterimanya. Sebab, penerimaan itu disesuaikan dengan konteks suasana hati dan lingkungannya. Maka, tingkat penerimaan dipastikan variatif. Sehingga, diperlukan komunikasi baik, tepat dan valid.Termasuk, pesan yang disampaikan pemerintah, baik pusat, provinsi maupun daerah. Setidaknya pesan itu diterima dengan penuh damai, bukan ketakutan.
Belakangan ini, rilis munculnya banyak korban -apalagi- sampai meninggal dunia sangat memberikan tekanan psikologis. Ekstremnya, pesan “ngeri” dan sedih yang sampai kepada komunikan secara kontinyu, hampir bisa dipastikan masuk ke alam bawah sadar (unconcious). Akibatnya, bisa menciptakan phobia berlebihan. Sehingga, tak ada keberanian untuk bergaul, bahkan untuk berinteraksi saja selalu menghadirkan was-was berlebihan.
Pesan yang masuk ke alam bawah sadar, biasanya akan banyak mempengaruhi tindakan dan perasaan. Ia akan hadir saat pesan itu disampaikan secara berulang. Biasanya, yang cepat masuk, jika pesan itu bersifat sedih, ngeri, takut, jijik dan lainnya. Sehingga, ketika pesan itu dianggap menakutkan maka secara tidak sadar tiba-tiba muncul rasa takut itu, tanpa dipaksa oleh alam sadarnya.
Tak salah jika Sigmund Freud (psikolog Austria), mengaku bahwa alam bawah sadar sangat berperan dalam mendorong manusia dalam melakukan tindakan dan kata-kata. Akibatnya, mereka tidak mengetahui alasan apa yang membuat dirinya berkata dan bertindak. Sebab itu muncul secara tiba-tiba dan otodidak, lantaran perilaku yang ditunjukkan tanpa diketahui maksud dan tujuannya.
Jadi, dalam konteks Pandemi covid 19, kontens komunikasi harus betul-betul valid. Sementara intensitas pesan menakutkan tak perlu dikirim kepada publik. Sebab, kesan menakutkan itu yang memberikan ruang tak terkendali untuk menghadirkan kepanikan. Tidak sedikit penyakit yang datang lantaran dihantui rasa panik dan was-was. Ini yang perlu diantisipasi oleh semua stakeholder di Bumi Pertiwi ini.
Dalam hal ini, Anthony de Mello pernah mengingatkan bahwa jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat, kalau terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit. Seribu orang menjadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik. Teori ini membuktikan bahwa betapa dahsyatnya pengaruh pikir manusia akibat pesan takut atau salah informasi terkait dengan penyakit atau wabah, termasuk virus yang datang dari Wuhan, Tiongkok 2019 lalu.
Diakui, intensitas pemberitaan tentang wabah ini cukup tinggi. Itu lantaran penyebaraanya terbilang cepat dan korbannya pun luar biasa banyak. Bahkan, setiap hari dipastikan terus mengalami penambahan. Sehingga, wajar jika wabah ini ditetapkan WHO (World Health Organization) sebagai Pandemi. Apalagi, tak hanya menyerang masyarakat Indonesia, melainkan dunia.
Hanya saja, intensitas komunikasi lewat pemberitaan atau lainnya tidak boleh memberikan kesan panik. Pesan itu -dimungkinkan- bisa memberikan motivasi untuk bangkit dan hidup. Ketika mendengar pesan, semua orang harus bisa tersupport untuk sehat dan bersama melawan penyebaran wabah mematikan ini. Hadirnya pesan juga tidak membuat kerdil dalam menghadapi kenyataan hidup.
Selain itu, pemberitaan dalam komunikasi pemerintah seyogyanya membawa angin kesejukan kepada penerima dalam hal ini masyarakat. Tidak ada kesan menekan, refresif dan agresif, tapi lebih mengarah pada persuasif. Sehingga, ketenangan jiwa dan pikir menerimanya dengan happines. Misalnya, hanya sekadar imbauan dan sejenisnya. Otomatis, tidak akan memberikan tekanan psikologis apapun.
Sementara itu, warga juga tidak serampangan menerima informasi yang diterima tanpa dari sumber resmi. Hal ini dilakukan untuk menghindari berita hoax atau palsu. Makanya, setiap kabar yang diterima harus dikaji, difilter dan dievaluasi kebenarannya. Sehingga, tidak menimbulkan kegaduhan, ketakutan dan kepanikan. Semoga Pandemi Vivid 19 ini segera berakhir. (Wallahua’lam bisshawab) *









