Spirit Qur’ani, Kadispertahortbun Sumenep Sebut Ketahanan Pangan Tanggungjawab Bersama

  • Whatsapp

Madurazone.co – Ketahanan pangan menjadi term menarik untuk diperbincangkan dan terus dikembangkan di Indonesia. Maklum, ketahanan pangan Nusantara ini masih cukup rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Bahkan, sesuai data Global Food Security Index, Indonesia berada di rangking 65 dengan skor 54,8.

Sebenarnya, lahan Indonesia sangat subur dan sangat luas. Sehingga, untuk bercocok tanam atau bertani masih terbilang sangat potensial. Apalagi, sejak awal bumi pertiwi ini dikenal dengan slogan gemah ripah loh jinawi, tongkat dan batu pun jadi tanaman. Seharusnya masalah ketahanan pangan melimpah.

Muat Lebih

Fakta ini menjadi atensi Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Sumenep Arif Firmanto. Menurutnya, potensi lahan luar biasa, tapi ketahanan pangan terbilang cukup rendah. Bahkan, lebih maju Negara Singapura yang lahannya sedikit, atau Cina yang jauh lebih maju, padahal tanahnya tak sesubur Indonesia.

“Maka soal ketahanan pangan ini, tentu saja kita harus mau belajar dengan dua negara itu Singapura dan Cina. Keduanya bekerja maksimal untuk mencukupi ketahanan pangan di negaranya,” katanya.

Sebenarnya, sambung dia, masalah ketahanan pangan di sebuah negara harus menjadi perhatian.
Setidaknya ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan serta kualitas dan keamanan pangan harus terjaga dengan baik. “Dengan begitu, maka jika tiga parameter ini tidak terpenuhi, maka perlu ada perbaikan,” tuturnya.

Bagaimana dengan Indonesia?, Arif Firmanto menegaskan, Indonesia punya potensi ketahanan pangan cukup besar. Sebab, banyak ruang untuk menggerakkan ketahanan pangan, tanah Indonesia subur dan luas. “Hanya tinggal memaksimalkan segala potensi terciptanya ketahanan pangan nasional di Indonesia,” ucapnya.

Selain itu, terang dia, salah satunya juga mulai menjadi bertani sebagai pekerjaan. Bahkan, di negara maju sudah bisa menjadikan pertanian sebagai hobi dan life style. “Di Kita mau menjadi petani menunggu pensiun. Paradigma semacam ini tentu harus dirubah ke arah lebih baik,” ucap mantan Kabid Sarpras dan Penyuluhan ini.

Arif Firmanto juga menambahkan, masalah pangan ini juga diisyaratakan dalam Al-Qur’an. Bahkan, kitab suci ini mendorong manusia untuk menyediakan pangan, baik bagi dirinya maupun orang lain. Sehingga, juga menjadi spirit untuk memberi makan kepada orang lain. “Dalam konteks ini pula, orang yang acuh dengan dan tidak peduli terhadap makan orang lain, maka sama dengan orang yang tidak salat. Berarti betapa pentingnya ketersedian pangan,” tuturnya.

Bahkan, menurut Arif, Al-Qur’an sangat detil atas apa yang dikerjakan manusia. Bayangkan, kita suci umat Islam ini sampai menggambarkan begitu detik terkait negara yang tanahnya subur dan dicurahi hujan, salah satunya di QS Annaba dan QS Abasa.

“Jika diambil secara implisit negara kita memiliki tanah yang subur dan memenuhi syarat untuk semua jenis tanaman tumbuh. Maka, harusnya ketahanan pangan kita tak perlu diragukan. Maka harusnya sudah bisa membangun ketahanan pangan bagi diri kita dan penduduk negeri lain,” ungkapnya.

Maka, Arif menegaskan, yang harus dilakukan soal pangan atau dalam bahasa Al Qur’an nya memberi makan ini adalah benar-benar urusan bersama, bukan hanya petani. Maka, ini sudah menjadi tanggungjawab bersama. Sehingga, harus bisa mencari jalan untuk terlibat dalam urusan pangan. “Dan bisa mendorongorang lain agar terlibat pengadaan pangan, apalagi sampai didanai. Ke depan, bagaimana urusan pangan ini bisa teratasi, dengan keterlibatan semua pihak. Insya Allah,” tukasnya.

Berikut landasan dalam al-Qur’an terkait ketahanan pangan……………..

1. Untuk reward bagi orang-orang yang mau bekerja ekstra keras menempuh jalan yang mendaki lagi sulit demi untuk bisa memberi makan orang lain misalnya, Allah akan masukkan orang-orang seperti ini menjadi golongan kanan (QS 90: 11-18). Dan golongan kanan inilah yang kelak akan sampai Surga dengan berbagai kenikmatannya (QS 56: 27-40).

2. Diam nya kita dan tidak acuhnya kita sehingga tidak mau menganjurkan untuk memberi makan ini saja sudah membuat stampel buruk pada diri kita sebagai pendusta agama (QS 107 (Al Ma’un: 1-3). Bahkan kedudukan orang yang tidak peduli terhadap kebutuhan makan orang lain ini menempatkan kedudukan orang tersebut sama dengan orang yang tidak shalat (QS 74 Al-Muddatsir: 42-44).

3. Bahkan ada dua surat di Al Qur’an yang menggambarkan negeri seperti yang kita miliki ini. Pertama di surat An Naba Allah menggambarkan negeri yang sangat subur ini adalah negeri yang mendapatkan sinar matahari yang sangat terang dan hujan yang sangat lebat (QS 78 An Naba: 13-16).

4. Senada dengan ini ada dalam surat Abasa yang menggambarkan bumi yang sangat subur dengan segala macam tanaman yang komplit tumbuh digambarkan sebagai negeri yang dicurahi hujan dan negeri yang tanahnya subur (QS 80 Abasa: 25-32).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.